PERPUSTAKAAN

Ki Hadjar Dewantara SMA N 11 Yogyakarta

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Login Pustakawan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Bukan Karena Kau

Text

Bukan Karena Kau

Toha Mohtar - Nama Orang;

Novel karya dari Toha Mohtar ini mengisahkan tentang seorang laki-laki bernama Hasan yang memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya walaupun ia sudah tidak memiliki kerabat lagi. Petang itu Hasan sudah berada di dalam gerbong tua yang telah menjalani tugasnya selama tiga zaman, sudah sejak zaman Jepang gerbong yang ia tumpangi tidak berlampu, saat Hasan sedang menikmati perjalanan, dilihatnyalah seorang kondektur yang sudah ia kenal sejak ia masih kecil, kondektur itupun menagih dan memeriksa karcis Hasan.

Hasan telah tiba di kota masa kecilnya. Rasa ragu meliputi Hasan saat ia pertama kali tiba disana setelah 7 tahun ia meninggalkan kotanya itu, ia memutuskan untuk menginap di penginapan milik Haji Darmawi, teman dekat Ayahnya. Setelah sampai di penginapan, Haji Darmawi menyambut Hasan dengan menunggunya di depan penginapan, setelah itu pelayan penginapan tersebut mengantarkan Hasan menuju kamarnya, keadaan disana sepi karena penginapan milik Haji Darmawi ini sudah tua dan sudah tersaingi oleh penginapan-penginapan lain milik orang-orang Tionghoa.

Haji Darmawi dan Hasan berbincang-bincang panjang semalaman, Haji Darmawi mendengarkan semua cerita yang Hasan utarakan, Hasan mulai merasa nyaman berada di dekatnya, ia merasakan kasih sayang seorang ayah yang sudah lama tidak ia rasakan, ia menceritakan bagaimana sulitnya hidup merantau, berpindah-pindah serta kisah cinta pertamanya yang kandas, Haji Darmawi juga meminta Hasan untuk meneruskan bisnis penginapan tua miliknya dikarenakan ia dan istrinya tidak dikaruniai anak dan keduanya sudah memasuki usia senja, pada awalnya Hasan menolak, tetapi akhirnya Hasan memutuskan untuk membantu pengembangan penginapan tua tersebut. Setelah itu, Hasan berpamitan kepada Haji Darmawi untuk menuju kamarnya dan Haji Darmawipun menuju rumahnya yang berada di depan penginapan tua miliknya.

Hari itu Hasan bertugas sebagai penerima tamu, setelah menunggu cukup lama, sepasang tamu pun hadir di depan matanya, namun ia tak menyangka bahwa tamu yang datang itu adalah Hermina, cinta pertamanya, ia datang bersama seorang lelaki tinggi dan berbadan tegap. Hasan tidak dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaaannya, ia melamun memikirkan kisahnya dahulu bersama Hermina, Haji Darmawi menyadarkan Hasan dari lamunan panjangnya dan memberi tahu Hasan bahwa tamu penginapan itu sudah diantar oleh pelayan menuju kamar paling depan yang memiliki jendela rangkap.

Hasan mulai sering memikirkan Hermina, dan ia mulai penasaran siapa lelaki yang bersama Hermina itu, Hasan memutuskan untuk mengawasi kamar Hermina dari kegelapan setiap malamnya. Pada suatu malam seseorang berjubah hitam datang, begitu pula dengan hari berikutnya, rasa penasaran Hasan terus menerus mengganggunya sehingga pada hari selanjutnya ia menuju jendela kamar Hermina untuk mendengar percakapan di kamar itu. Dikamar itu Hermanto, pria yang bersama Hermina sedang berbicara dengan Hendrik Winata, penipu ulung di kotanya, mereka membicarakan tentang cara mencuri uang dari brankas Lo Peng Ho, seorang pengusaha minyak yang kaya. Hasan mendengar hal tersebut lalu kembali ke kamarnya.

Pagi hari itu, Hasan terbangun karena kehadiran Hermina di kamarnya, Hermina meminta Hasan untuk tidak memberitahu siapapun tentang yang ia dengar semalam, Hermina tahu bahwa Hasan mendengar percakapan Hermanto dan Hendrik semalam, Hermina mulai menceritakan bahwa Hermanto yang membantunya saat ayahnya dipenjara, dan Hermanto membantunya memberi makan kesembilan adiknya, dan ia menceritakan betapa sulitnya ia hidup setelah ayahnya dipenjara.Hasan pun luluh hatinya, ia tidak ingin wanita yang masih ia cintai sampai saat ini menderita, ia memutuskan untuk tidak memberi tahu siapapun bahwa dalam waktu 3 hari kedepan, brankas milik Lo Peng Ho akan dirusak paksa oleh Hermanto.

Keesokan harinya, Hasan memutuskan untuk menjelajahi kotanya dengan becak, setelah ia cukup lama menikmati indahnya kota kecil itu, ia tiba di pabrik milik Lo Peng Ho dan memutuskan untuk mengunjunginya. Saat Hasan melihat-lihat bagian kantor yang sedang sibuk beroperasi, ia bertemu dengan Darto, sahabat baiknya yang menjadi tangan kanan Lo Peng Ho. Darto mengajak Hasan mengelilingi pabrik besar itu, Hasan pun tertarik untuk mendapatkan informasi brankas serta mengamati jenis kunci dan gembok apa saja yang digunakan, Darto juga mengajari Hasan sebuah kode rahasia saat melewati pintu belakang yang selalu dijaga ketat oleh Mang Karta.

Malam harinya, Hasan mendengar kabar bahwa rencana pembobolan brankas Lo Peng Ho dibatalkan karena Hendrik gagal memperoleh informasi mengenai brankas dan denah gedung yang dibutuhkan oleh Hermanto. Dikarenakan rencananya yang dibatalkan, Hermanto mengajak Hermina untuk meninggalkan kota fajar ini. Namun berat hati Hasan untuk melepas kepergian Hermina, Hasan pun memberanikan diri masuk ke kamar Hermina dan Hermanto untuk memberitahukan semua informasi yang ia dapatkan hari ini. Pada awalnya Hermanto ragu, tetapi Hermina meyakinkan Hermanto bahwa Hasan adalah orang yang bisa ia percaya.

Jam 3 pagi sesuai dengan perjanjian, Hasan dan Hermanto bertemu di kebun belakang pabrik, Hasan lalu membimbing Hermanto ke pintu yang selalu dijaga Mang Karta. Hasan mengetuk dengan kode rahasia yang sudah diajarkan Darto, diketukan kedua Mang Karta membukakan pintu, Hermanto segera memukul Mang Karta hingga pingsan, lalu Mang Karta diikat dan mulutnya dibekap. Hasan tidak tega dan mengkhawatirkan Mang Karta, ia melonggarkan ikatan Mang Karta dan pergi menyusul Hermanto. Tiba di ruangan tempat brankas Hermanto segera bertindak, ia memang sudah profesional dalam bidang ini, tanpa kesulitan ia membobol brankas milik Lo Peng Ho, Hasan menuruti perintah Hermanto untuk mengawasi di dekat pintu dengan dibekali oleh sebuah pistol.

Setelah berhasil meraup seluruh isi brankas Lo Peng Ho, mereka pun pergi meninggalkan gedung, Namun, Mang Karta menghadang mereka dengan dibekali sebuah pisau, Hasan tiba-tiba teringat oleh perkataan Darto bahwa Mang Karta merupakan pejuang tangguh, ia dapat melempar pisau tepat sasaran walaupun dengan jarak 10 meter, saat itu jarak Mang Karta dengannya hanyalah sekitar 7 meter. Hasan menembakkan peluru tepat di kepala Mang Karta, ia membunuh Mang Karta.

Setelah sampai di penginapan, Hasan masih membayangkan wajah tua Mang Karta mengaduh kesakitan saat ia tinggalkan, Hasan tidak dapat memejamkan matanya karena selalu terbayang wajah Mang Karta yang sudah ia bunuh itu. Kabar pembunuhan dan perampokan itu dengan cepat menyebar. Polisi mengerahkan tim terbaik untuk menyelidiki kasus ini, Hermanto sudah meninggalkan penginapan dan menyusul Hermina sesaat setelah mereka tiba di penginapan, hanya Hasan yang sangat menderita di kamarnya.

Pak Haji Darmawi mengunjungi kamar Hasan, dan memberitahu tentang kabar pembunuhan itu, namun Hasan tetap terdiam dan melamun sehingga Pak Haji menegaskan bahwa Mang Karta yang terbunuh itu adalah adiknya dan ia merasa bangga kepadanya karena berjuang dan teguh pada janjinya, Mang Karta juga ternyata adalah kondektur kereta yang Hasan kenal, Hasan pun terkejut dan merasa semakin terpuruk.

Setelah melaksanakan pemakaman Mang Karta, Pak Haji sakit keras, ia meminta istrinya untuk memanggil Hasan ke kamarnya, Pak Haji bercerita tentang Mang Karta kepada Hasan tentang mengapa perampok itu harus membunuhnya, mengapa ia tega sekali membunuh orang tua yang sudah renta itu. Hal tersebut membuat Hasan semakin terpuruk pada keadaannya.

Inspektur Daha melepaskan tembakan jitunya terhadap Hasan, sebelum menemui ajalnya, Hasan memberitahu Inspektur Daha bahwa di bawah lantai dipan penginapan terdapat kertas-kertas folio untuknya dan ia harus segera mengambil berkas itu sebelum ada yang merampasnya. Benar, kertas itu berisi bukti-bukti dan cerita bagaimana Hasan mulai terlibat dan mengapa ia sampai membunuh Mang Karta. Ia menjadi pemuda yang bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat. Pak Haji pun tetap menyayangi Hasan dan menguburkan jasadnya di dekat Mang Karta adiknya, dengan layak.

Novel karya Toha Mohtar ini nyaris terlupakan. Pertama kali terbit sebagai buku saku tahun 1968, kemudian menghilang, hampir seperempat abad kemudian PT. Grasindo menghidupkannya kembali. Novel ini sangat bagus untuk dibaca, karena konflik di dalam novel ini membuat pembacanya ingin segera mengetahui keseluruhan cerita, novel ini juga bisa dibaca dengan sekali duduk sehingga cocok untuk remaja yang menginginkan suatu bacaan singkat. Sayangnya, pada halaman-halaman pertama novel ini agak sulit dimengerti karena menggunakan alur kilas balik. Melalui novel ini penulis menyimpulkan bahwa kita semua tidak boleh lari dari tanggung jawab, kita harus berani bertanggung jawab atas apa yang telah kita perbuat. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya. Terima Kasih. Tuhan memberkati.


Ketersediaan
23SR00325813 MOH bMy Library (Rak 800)Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
813 MOH b
Penerbit
Jakarta : PT. Grasindo., 1993
Deskripsi Fisik
116 hlm. ., 21,5 cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
9795532847
Klasifikasi
813
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
Cetakan 1
Subjek
Novel
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

PERPUSTAKAAN
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Perpustakaan Ki Hadjar Dewantara merupakan perpustakaan sekolah yang mengedepankan literasi terkini dengan didukung berbagai fasilitas nyaman.

Jam Operasional :
Senin-Kamis : 07.00 - 15.30 WIB
Jumat            : 07.00 - 14.00 WIB

Telp. (0274) 565898
Fax. (0274) 565898

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik