Text
Ripta-Perjuangan Tentara Pecundang
"Pejuang bisa mati, tetapi nilai perjuangan tetap dikenang". Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Siapakah sesungguhnya yang patut disebut pejuang? Mungkinkah terjadi pergeseran persepsi tentang hal ini karena perjalanan waktu, perbedaan generasi dan faktor gender?
Asvi Warman Adam - Sejarawan LIPI
Sebagian kenyataan perjuangan kemanusiaan Indonesia, misalnya "revolusi" kemerdekaan 1945-1949, telah banyak digagas dan dikarang, khususnya oleh kalangan (elit) ABRI
Meski tidak bermaksud meluruskan kenyataan seperti itu, kebaruan (novelty) RIPTA dalam lukisan kata-kata penulisnya yang kental dengan kejawaan telah jeli mewaspadai bahwa tidak (selamanya) ada hirarki antara gagasan, kata dan kenyataan.
Intimitas kehidupan sehari-hari menjadikan peran-peran perempuan dalam novel ini mengungkap suatu "kuasa hasrat" akan kemanusiaan dari rakyat yang biasa-biasa saja. Bukan sebaliknya, seperti "hasrat kuasa" dari kaum elitis Indonesia.
Budi Susanto, SJ
Penulis buku "ABRI Siasat Kebudayaan 1945 1995" dan editor utama buku-buku monografi "Seri Siasat Kebudayaan™
Kekuatan "Mas Ripta" pada inti pesannya ini dimantapkan oleh gaya penceritaan Anita Kastubi yang unik, karena merupakan kisah penuturan si-Aku yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing merupakan kisah tutur si protagonis - bahkan ketika Mas Ripta sudah di ambang sekerat maut sekalipun! Namun, semuanya itu, ketika dirangkum di bawah protagonis utama "Mas Ripta", menjadilah tokoh-tokoh komponen belaka.
Hersri Setiawan
Sastrawan
| 23SR0666 | 813 KAS r | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain