Text
Serat Lebdatama 1
Serat Witaradya (1863 M) adalah karya sastra sejarah gubahan pujangga R. Ng. Ranggawarsita sesudah Serat Pustakaraja dan Serat Ajipamasa (1862 M). Dalam konstruksi teks-teks Pustakaraja, Serat Witaradya termasuk kelompok Serat Maharaka, bagian Serat Pustakaraja Puwara. Teks Serat Witaradya sangat terkenal pada masanya, sehingga teks tersebut disalin dan dikoleksi di beberapa Perpustakaan. Teks Witaradya yang dipakai dalam penelitian ini adalah Serat Witaradya Jilid I (27 pupuh) dan Serat Witaradya Jilid II (19 pupuh), yang sudah dialihaksarakan dan dibuat ringkas ceritanya oleh Sudibjo Zaenudin Hadisutjipto (S.Z.) serta diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Bacaan Dan Sastra Indonesia Dan Daerah, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta (1979). Serat Witaradya menceritakan mengenai Prabu Kusumawicitra (Prabu Ajipamasa) menjadi raja di Pengging Witaradya sampai menyerahkan tahta kerajaannya kepada putranya, yakni: Prabu Citrasoma. Dalam penelitian ini dikemukakan tentang: Pengging dalam lintasan sejarah Jawa; versi-versi Serat Witaradya; struktur naratif Serat Witaradya dalam bentuk kernel dan satelitnya, lokasanggraha dalam Serat Witaradya, genealogi, mitos Pengging maupun kedudukan Kusumawicitra bagi dinasti raja-raja Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, Surakarta. Penelitian ini menggunakan teori struktur naratif Seymour Chatman; teori lokasanggraha (teologi alam) yang dikemukakan oleh Cri Krsna dalam Bhagavadgita; serta teori genealogi Keeler. Hasil penelitian atas Serat Witaradya ini menunjukkan bahwa: 1. Terdapat 32 kernel yang terdiri dari 685 satelit; 2. Relasi dan hormonisasi antara dunia manusia dengan makhluk halus melalui tarian para makhkuk halus pada pesta syukuran di istana Pengging; 3. Harmonisasi ekologi di Herbanggi yang semula terganggu, akhirnya kembali terwujud setelah diadakan perjanjian sakral antara Bathara Gana dengan Raden Citrasena dan Prabu Jayasusena; 4. Genealogi yang mencakup: Prabu Kusumawicitra, Ajar Sidhiwacana, Raja Parwata, dan Gandarwa Bahidhi; 5. Pemitosan R. Ng. Ranggawarsita atas daerah Pengging sebagai pusat kekuasaan atas Tanah Jawa, sesudah Kediri; 6. Kusumawicitra dimasukkan ke dalam tokoh historis sebagai nenek moyang raja-raja dinasti Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegara, sebaliknya melalui Kusumawicitra, raja-raja Kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran dimasukkan ke dalam kerajawian Jawa yang secara konseptual terdapat dalam viracarita Mahabharata.
| 23SR0562 | 810 RAD s | My Library (800) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain